Kelahiran Putri Kami yang Ke-3

Alhamdilillah, mungkin kata itulah yang kami ucapkan tanda syukur dan kebesaran Allah SWT, karena semua kejadian yang ada di muka bumi ini adalah atas kehendak dan Skenario-Nya.

Tepatnya hari selasa jam 13.50 wib Tanggal 14-12-10, atau bertepatan dengan 8 Muharram 1432 H, dede kecil ” Azka Fariza Izzatunnisa ” telah ditaqdirkan oleh Allah SWT untuk menghuni alam yang bernama Bumi ini.

Harap kami sekeluarga Semoga dede Azka menjadi Anak yang sholihah, berbakti kepada abi dan uminya dan berguna bagi Nusa dan Bangsa indonesia tercinta ini serta yang utama adalah Agamanya yaitu Addinul Islam.

10 Bersaudara Bintang Al-Qur’an

10 Bersaudara Bintang Al-Qur’an

Judul Buku : 10 Bersaudara Bintang Al-Qur’an
Penulis : Izzatul Jannah – Irfan Hidayatullah
Penerbit : Sygma Publishing, Bandung
Cetakan Ke : 2
Tahun Terbit : Januari 2010
Tebal Buku : xiv + 150 halaman

Setiap orang tua muslim pasti ingin memiliki anak-anak yang hafal Al-Qur’an dan berprestasi. Apalagi para kader dakwah yang sangat menyadari bahwa keluarga merupakan sasaran dakwah yang kedua; ishlahul usrah, setelah ishlahul fardi. Buku 10 Bersaudara Bintang Al-Qur’an ini merupakan sebuah karya yang –seperti kata Ustadz Yusuf Mansur- akan menginspirasi banyak keluarga di tanah air. Ternyata membesarkan anak di masa sekarang untuk menjadi hafiz Al-Qur’an bukan sesuatu yang mustahil.

Buku ini adalah kisah nyata sebuah keluarga muslim di Indonesia. Keluarga dakwah. Keluarga yang mampu menjadikan 10 orang buah hati mereka sebagai anak-anak yang shalih, hafal Al-Qur’an dan berprestasi. Keluarga luar biasa itu adalah pasangan suami istri Mutammimul Ula dan Wirianingsih beserta 10 putra-putri mereka. Yang lebih luar biasa lagi adalah, kedua orang tua ini tergolong super sibuk dengan berbagai aktifitas dakwahnya. Mutammimul Ula adalah anggota DPR RI dari fraksi PKS. Sedangkan Wirianingsih adalah Staf Departemen Kaderisasi DPP PKS sekaligus Ketua Aliansi Selamatkan Anak (ASA) Indonesia dan Ketua Umum PP Salimah (Persaudaraan Muslimah) yang cabangnya sudah tersebar di 29 propinsi dan lebih dari 400 daerah di Indonesia.

10 bersaudara bintang Al-Qur’an itu adalah :

1. Afzalurahman Assalam
2. Faris Jihady Hanifa
3. Maryam Qonitat
4. Scientia Afifah Taibah
5. Ahmad Rasikh ‘Ilmi
6. Ismail Ghulam Halim
7. Yusuf Zaim Hakim
8. Muhammad Syaihul Basyir
9. Hadi Sabila Rosyad
10. Himmaty Muyassarah


Afzalurahman Assalam

Putra pertama. Hafal Al-Qur’an pada usia 13 tahun. Saat buku ini ditulis usianya 23 tahun, semester akhir Teknik Geofisika ITB. Juara I MTQ Putra Pelajar SMU se-Solo, Ketua Pembinaan Majelis Taklim Salman ITB dan terpilih sebagai peserta Pertamina Youth Programme 2007.


Faris Jihady Hanifa

Putra kedua. Hafal Al-Qur’an pada usia 10 tahun dengan predikat mumtaz. Saat buku ini ditulis usianya 21 tahun dan duduk di semester 7 Fakultas Syariat LIPIA. Peraih juara I lomba tahfiz Al-Qur’an yang diselenggarakan oleh kerajaan Saudi di Jakarta tahun 2003, juara olimpiade IPS tingkat SMA yang diselenggarakan UNJ tahun 2004, dan sekarang menjadi Sekretaris Umum KAMMI Jakarta.


Maryam Qonitat

Putri ketiga. Hafal Al-Qur’an sejak usia 16 tahun. Saat buku ini ditulis usianya 19 tahun dan duduk di semester V Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar Kairo. Pelajar teladan dan lulusan terbaik Pesantren Husnul Khatimah 2006. Sekarang juga menghafal hadits dan mendapatkan sanad Rasulullah dari Syaikh Al-Azhar.


Scientia Afifah Taibah

Putri keempat. Hafal 29 juz sejak SMA. Kini usianya 19 tahun dan duduk di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI). Saat SMP menjadi pelajar teladan dan saat SMA memperoleh juara III lomba Murottal Al-Qur’an tingkat SMA se-Jakarta Selatan.


Ahmad Rasikh ‘Ilmi

Putra kelima. Saat buku ini ditulis hafal 15 juz Al-Qur’an, dan duduk di MA Husnul Khatimah, Kuningan. Ia lulusan terbaik SMPIT Al-Kahfi, juara I Kompetisi English Club Al-Kahfi dan menjadi musyrif bahasa Arab MA Husnul Khatimah.


Ismail Ghulam Halim

Putra keenam. Saat buku ini ditulis hafal 13 juz Al-Qur’an, dan duduk di SMAIT Al-Kahfi Bogor. Ia lulusan terbaik SMPIT Al-Kahfi, juara lomba pidato bahasa Arab SMP se-Jawa Barat, serta santri teladan, santri favorit, juara umum dan tahfiz terbaik tiga tahun berturut-turut di SMPIT Al-Kahfi.


Yusuf Zaim Hakim

Putra ketujuh. Saat buku ini ditulis ia hafal 9 juz Al-Qur’an dan duduk di SMPIT Al-Kahfi, Bogor. Prestasinya antara lain: peringkat I di SDIT, peringkat I SMP, juara harapan I Olimpiade Fisika tingkat Kabupaten Bogor, dan finalis Kompetisi tingkat Kabupaten Bogor.


Muhammad Syaihul Basyir

Putra kedelapan. Saat buku ini ia duduk di MTs Darul Qur’an, Bogor. Yang sangat istimewa adalah, ia sudah hafal Al-Qur’an 30 juz pada saat kelas 6 SD.


Hadi Sabila Rosyad

Putra kesembilan. Saat buku ini ditulis ia bersekolah di SDIT Al-Hikmah, Mampang, Jakarta Selatan dan hafal 2 juz Al-Qur’an. Diantara prestasinya dalah juara I lomba membaca puisi.


Himmaty Muyassarah

Putri kesepuluh. Saat buku ini ditulis ia bersekolah di SDIT Al-Hikmah, Mampang, Jakarta Selatan dan hafal 2 juz Al-Qur’an.

Dilengkapi Fakta Kemahaagungan Allah Menjaga Kemurnian Al-Qur’an sampai Akhir Zaman dan Fadhilah Menghafal Al-Qur’an
Buku 10 Bersaudara Bintang Al-Qur’an ini tidak hanya berisi bagaimana putra-putri Mutammimul Ula dan Wirianingsih menjadi penghafal Al-Qur’an. Di bagian pendahuluan terlebih dahulu dibahas Fakta Kemahaagungan Allah Menjaga Kemurnian Al-Qur’an sampai Akhir Zaman. Meliputi pembagian Al-Qur’an, Al-Qur’an sebagai Mukjizat, Sejarah Turunnya Al-Qur’an Kodifikasi Al-Qur’an, sampai Sejarah Pemeliharaan Kemurnian Al-Qur’an.

Pada bab 5 juga dibahas mengapa menjadi hafiz Al-Qur’an begitu penting. Penulis mengklasifikasikannya menjadi 2 bagian: fadhail dunia dan fadhail akhirat. Fadhail dunia antara lain: hifdzul Qur’an merupakan nikmat rabbani, mendatangkan kebaikan, berkah dan rahmat bagi penghafalnya, hafiz Qur’an mendapat penghargaan khusus dari Nabi (tasyrif nabawi), keluarga Allah di muka bumi. Sedangkan fadhail akhirat meliputi: Al-Qur’an menjadi penolong (syafaat) penghafalnya, meninggikan derajat di surga, penghafal Al-Qur’an bersama para malaikat yang mulia dan taat, diberi tajul karamah (mahkota kemuliaan), kedua orangtuanya diberi kemuliaan, dan pahala yang melimpah.

Apa Kuncinya?
Apa kunci sukses keluarga Mutammimul Ula dan Wirianingsih mendidik 10 bersaudara bintang Al-Qur’an itu? Keseimbangan proses. Walapun mereka berdua sibuk, mereka telah menetapkan pola hubungan keluarga yang saling bertanggungjawab dan konsisten satu sama lain. Selepas Maghrib adalah jadwal mereka berinteraksi dengan Al-Qur’an.

Beberapa hal yang mendukung kesuksesan ini adalah upaya mereka menjaga kondisi ruhiyah dalam keluarga:
1. Tidak ada televisi di dalam rumah
2. Tidak ada gambar syubhat
3. Tidak ada musik-musik laghwi yang menyebabkan lalai kepada Allah dan diganti dengan nasyid
4. Tidak ada perkataan yang fashiyah (kotor)

Hal yang cukup mendasar yang dimiliki keluarga ini sehingga mampu mendidik 10 bersaudara bintang Al-Qur’an adalah visi dan konsep yang jelas, yakni menjadikan putra-putrinya seluruhnya hafal Al-Qur’an. Kedua, pembiasaan dan manajemen waktu. Setelah Shubuh dan setelah Maghrib adalah waktu khusus untuk Al-Qur’an yang tidak boleh dilanggar dalam keluarga ini. Sewaktu masih batita, Wirianingsih konsisten membaca Al-Qur’an di dekat mereka, mengajarkannya, bahkan mendirikan TPQ di rumahnya. Ketiga, mengkomunikasikan tujuan dan memberikan hadiah. Meskipun kebanyakan di waktu kecil mereka merasa terpaksan, namun saat sudah besar mereka memahami menghafal Al-Qur’an sebagai hal yang sangat perlu, penting, bahkan kebutuhan. Komunikasi yang baik sangat mendukung hal ini. Dan saat anak-anak mampu menghafal Al-Qur’an, mereka diberi hadiah.

Metode Menghafal Al-Qur’an 10 bersaudara bintang Al-Qur’an
Pada bab penutup penulis memaparkan metode yang dipilih keluarga Mutammimul Ula dalam mendidik 10 bersaudara bintang Al-Qur’an: pertama, mengajarkan membaca. Kedua, repetisi (pengulangan). Ketiga, memilihkan mereka sekolah yang memiliki program utama menghafal Al-Qur’an. Secara khusus kedua orang tua juga senantiasa menjaga orientasi hafalan mereka. Keempat, saat menginjak usia remaja mereka dipahamkan tentang fadhilah membaca Al-Qur’an. Kelima, kedua orang tua menjadi teladan yang nyaris sempurna dalam dakwah, pemikiran Islam, orientasi tentang keluarga Al-Qur’an, dan senantiasa mendoakan mereka sepanjang waktu hidupnya.

Akhirnya, bagi keluarga muslim, terutama keluarga dakwah, kiranya buku 10 bersaudara bintang Al-Qur’an ini sangat penting untuk menginspirasi berikut menjadi referensi lahirnya bintang-bintang Al-Qur’an yang baru. [Muchlisin]

April, Kafilah Viva Palestina Indonesia ke Gaza

Viva Palestina adalah gerakan kemanusiaan beranggotakan orang-orang dan organisasi masyarakat dari seluruh dunia untuk solidaritas Palestina di Jalur Gaza

Hidayatullah.com–Hingga kini persiapan perhelatan akbar Viva Palestina Indonesia terus dipersiapkan. Selain dengan melakukan penyebaran informasi seputar kondisi aktual rakyat Palestina melalui laman berita di internet, pihak penyelenggara juga terus melakukan pengumpulan dana dari umat melalui pengajian-pengajian dan taklim, serta membuka rekening donasi.

Hal tersebut disampaikan Ketua Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina (KISPA) Ustadz Ferry Nur, S.Si. Selain itu, sejumlah tokoh masyarakat juga telah diundang untuk mendukung kegiatan tersebut, di antaranya Ketua BAZNAS Prof. Dr. Didin Hafidhuddin, Ketua MUI KH. Kholil Ridwan, Syaifuddin Amsyari dari NU, da’i muda Ustadz Yusuf Mansur, dan politisi senior yang juga mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault.

“Mereka sudah kami konfirmasi. Untuk di Indonesia kita hanya menyediakan kuota untuk lima orang. Kita memang mengutamakan masyarakat umum,” kata Ferry, dalam perbincangan dengan Hidayatullah.com, Senin (22/03).

Adapun rencana keberangkatan kafilah akan dilakukan pada bulan April mendatang, dengan penyeberangan menggunakan kapal via Laut Tengah (Mediterania).

“Segala sesuatunya terus dipersiapkan. Kita sudah menjalin kerjasama dengan beberapa lembaga dan terus menjalin komunikasi pula dengan pihak-pihak terkait di Palestina,” jelas Ferry.

Sejauh ini, KISPA telah melakukan kerjasama dengan Hidayatullah.com, Eramuslim, dan Sahabat Al-Aqsa.

Satu untuk Palestina

Viva Palestina adalah sebuah kafilah kemanusiaan beranggotakan orang-orang dan organisasi masyarakat dari seluruh dunia yang berjuang membawa bantuan kemanusiaan untuk rakyat Palestina di Jalur Gaza.

Embargo terhadap warga Gaza yang berupa pengepungan militer dan politik yang kejam oleh rezim Zionis Israel, didukung oleh pemerintah Amerika Serikat, Inggris, dan beberapa negara lainnya, bertujuan memaksakan agenda-agenda penjajahan Israel atas rakyat dan tanah Palestina.

Embargo yang telah berjalan hampir 4 tahun ini mengakibatkan penderitaan berat bagi 1,5 juta orang warga Jalur Gaza, karena bahan makanan, obat-obatan, alat-alat medis, dan keperluan asasi manusia lainnya tidak dibolehkan masuk oleh Israel. Ada tujuh pintu masuk perbatasan Gaza, enam dikuasai Israel, satu dikuasai Mesir.

Viva Palestina Indonesia akan bergabung dengan orang-orang dan organisasi masyarakat dari seluruh dunia untuk menembus blokade militer yang mengepung Gaza, dan membawa bantuan kemanusiaan berupa makanan, obat-obatan, susu bayi, dan bahan bangunan langsung ke Gaza, dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. [ain/www.hidayatullah.com]

Membuat Foto Kartun Tapi bukan Gambar Vektor

Membuat foto kartun itu gampang-gampang susah .. tergantung dari foto nya juga sebenernyar.. kalo fotonya high resolution hasil gambarnya bisa bagus.. tapi kalo resolusi nya yang agak low resolution bisa-bisa hasinya gak terlalu bagus.. tapi tergantung kreatifitas kita juga sebenernya..

lanjut mang

RS Mitra Internasional Jatinegara Pecat 3 Perawat Karena Jilbab

Inikah toleransi beragama?

Jika di negeri Indonesia yang mayoritas Muslim saja ummat Islam bisa ditindas, bagaimana jika mereka jadi minoritas?

Tiga perawat berjilbab (inilah.com /Wirasatria)

dakwatuna.com – Wajah tiga perempuan ini begitu tenang. Ada keyakinan yang sedang mereka perjuangkan. Meski, untuk itu mereka harus membayar mahal: dipecat setelah 15 tahun mengabdi. Suharti, Sutiyem dan Wiwin Winarti tak banyak bicara. Senin siang (7/11), ketiga wanita ini mendatangi Komnas HAM. Mereka sedang memperjuangkan keyakinannya: jilbab. lanjut

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.